Main Blog:

Kamis, 05 Mei 2011

Sabtu, 02 April 2011

Lem pada Cacing Sarang Lebah

Membaca halaman keseluruhan disini (Powered by Google Docs)







KLIK PADA CROP HALAMAN 26 DARI AWAKE APRIL 2011 untuk membaca dalam format png.

Sabtu, 12 Februari 2011

Selasa, 07 Desember 2010

Mata Udang Mantis dan Pemutar DVD.

Udang mantis (Odontodactylus scyllarus), yang terdapat di Karang Penghalang Besar Australia, diperlengkapi dengan mata yang paling rumit dalam dunia satwa. “Sungguh luar biasa,” kata Dr. Nicholas Roberts, “mata udang itu jauh mengungguli apa pun yang mampu diciptakan manusia hingga saat iini.”

Pikirkan: Udang mantis dapat melihat cahaya yang terpolarisasi dan memprosesnya dengan cara yang tidak dapat dilakukan manusia. Gelombang cahaya yang tepolarisasi dapat merambat lurus atau berputar seperti spiral. Tidak seperti mahluk-mahluk lain, udang mantis ini tidak hanya melihat cahaya yang terpolarisasi dalam bentuk lurus maupun memutar, tetapi juga bisa mengubah cahaya tersebut dari satu bentuk ke bentuk lainnya. Karena itu, udang ini memiliki penglihatan yang lebih baik.

Pemutar DVD bekerja dengan cara serupa. Guna memproses informasi, pemutar DVD harus mengubah cahaya terpolarisasi yang dibidikan lurus ke cakram menjadi gerak memutar lalu mengubahnya kembali menjadi bentuk garis lurus. Namun, mata udang mantis selangkah lebih maju. Pemutar DVD standar hanya mengubah cahaya merahatau di pemutar yang beresolusi lebih tinggi, cahaya biru—tetapi mata udang itu dapat mengubah semua warna cahaya yang terlihat.

Para peneliti berpendapat bahwa dengan menggunakan mata udang mantis sebagai model, para insinyur bisa mengembangkan pemutar DVD yang memutar cakram dengan informasi yang jauh lebih banyak ketimbang DVD sekarang. “Yang terutama menarik adalah mata itu luar biasa sederhana,” kata Roberts. “Cara kerjanya jauh lebih baik ketimbang upaya apa pun yang pernah kita buat untuk merancang sebuah alat.”

Bagaimana Menurut Anda? Apakah mata udang mantis yang mengagumkan itu adalah produk kebetulan? Atau, apakah ini dirancang?

Picture courtesy: Stephen Child; Artikel: Salinan dari Awake! November 2010

Ikan Perenang yang Efisien


Untuk Memperjerlas Klik Crop halaman majalah Awake! Desember 2010 Ini:

Senin, 25 Oktober 2010

Lidah Burung KOLIBRI

SEDOTAN OTOMATIS

SEWAKTU para peneliti menganalis setetes darah, DNA, atau cairan lain pada permukaan kaca seukuran telapak tangan Anda. Dan peneliti mencoba memindahkan cairan dalam jumlah yang sangat sedikit, mereka menggunakan pengisap atau pipet, tetapi metode ini cenderung tidak efisien. Adakah cara yang lebih baik untuk memindahkan setetes cairan? Menurut Dr. John Bush dari Massachusetts Institute of Technology, älam sudah memecahkan masalah ini”.

Pikirkan: Kolibri tidak membuang energi dengan mengisap nektar bunga ke mulutnya. Tetapi, ia memanfaatkan daya kohesi yang menyebabkan air di permukaan yang rata membentuk tetesan dan melawan gravitasi. Ketika lidah kolibri menyentuh nektar, permukaan nektar memaksa lidahnya menggulung hingga menyerupai sedotan kecil, dan nektar pun terisap. Intinya, kolibri tidak perlu mengerahkan upaya karena nektar mengalir dengan sendirinya melalui “sedotan” itu ke mulutnya. Sewaktu makan, kolibri dapat mengisi kembali lidahnya dengan nektar hingga 20 kali per detik!

Menurut pengamatan, sistem “sedotan otomatis” ini juga dimiliki beberapa burung pantai, yang minum dengan cara yang sama. Ketika mengomentari kemampuan ini, Profesor Mark Denny dari Stanford University di Klaifornia, AS, menyatakan, “Kombinasi teknik, fisika dan matematika terapan tersebut sangat menakjubkan... Jika Anda memilih insinyur atau ahli matematika terapan, siapa pun itu, dan meminta mereka merancang cara agar seekor burung dapat memindahkan air dari paruh kemulutnya, cara ini tidak bakal terpikir oleh mereka.”

Bagaimana menurut Anda? Apakah lidah kolibri yang mungil—dengan kemampuannya untuk mengambil nektar secara cepat dan efisien—muncul secara kebetulan? Atau, apakah ini dirancang?


Salinan © 2010 from Watch Tower Bible and Tract Society of Pennsylvania. All rights reserved. Appeared in Awake! printed publication October, 2010